KHALIFAH YANG TERKENAL DAN KEBIJAKAN PEMERINTAHAN BANI UMAYYAH I

Makalah Al-Qur’an Hadist Penjelasan Qs. Al-Baqarah[2]:148 dan Qs. Al-Fatir [35]:32

Posted on

Penjelasan

Qs. Al-Baqarah[2]:148 dan Qs. Al-Fatir [35]:32

KHALIFAH YANG TERKENAL DAN KEBIJAKAN PEMERINTAHAN BANI UMAYYAH I

Oleh :

Kelompok 1 :

Liya Elmila

Shella Arini

Aulia

Ahmad Alvin Nizar

Ryan Dwi Cahyo

Jaki Akbar

XI IIS 1

MADRASAH ALIYAH NEGERI

 TAHAN LAUT

2020/2021

 

Qs.Al-Baqarah [2]:148

وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَا ۖ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ ۚ أَيْنَ مَا تَكُونُوا يَأْتِ بِكُمُ اللَّهُ جَمِيعًا ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu {Qs. Al-Baqarah [2]:148}.

Terjemah kosa kata /kalimat (mufradat)

Al-Baqarah [2]:148

مُوَلِّيْهَا هُوَ وِّجْهَةٌ وَلِكُلٍّ
menghadap kepadanya yang dia kiblat dan setiap umat mempunyai

 

يَأْتِ بِكُمُ اللّٰهُ أَيْنَمَا تَكُوْنُوْا الْخَيْرٰتِۗ فَاسْتَبِقُوا
pasti Allah akan mengumpulkan kamu di mana saja kamu berada (dalam) kebaikan maka berlomba-lombalah kamu

 

قَدِيْرٌ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ إِنَّ اللّٰهَ جَمِيْعًاۗ
Mahakuasa atas segala sesuatu sungguh Allah semuanya

Penjelasan Ayat Qs. Al-Baqarah [2]:148

 Secara umum ayat ini dapat dipahami sebagai dorongan kepada umat islam untuk selalu berlomba-lomba dalam  kebaikan. Tentunya untuk melihat sebuah perbuatan tersebut baik atau tidak,harus merujuk sesuai dengan aturan Allah SWT yaitu Al-Qur’an dan sesuai dengan hadist yang sahih. untuk menelisik lebih jauh kandungan ayat ini, mari kita ikuti uraian berikut.

Pada ayat ini, Allah menerangkan bahwa bagi setiap pemeluk suatu agama mempunyai kiblatnya sendiri-sendiri.

Tentunya kiblat itulah yang menjadi kecenderungan mereka untuk menghadap sesuai dengan keyakinan mereka. Dan kaum muslimin mempunyai kiblat yang ditetapkan langsung oleh Allah yaitu Ka’bah.

Dalam tafsir Al-misbah di jelaskan bahwa Allah memerintahkan umat Yahudi berkiblat ke Baitul-maqdis,dan umat yang lain melalui Nabi dan rasulnya untuk menghadap ke arah tersebut. Namun, dalam ayat ini Allah memerintah untuk mengarah ke ka’bah dan berlaku untuk semua. Perintah ini adalah membatalkan perintah Allah sebelumnya termasuk untuk Nabi Muhammad SAW yang sebelumnya pada saat sholat menghadap selain ke ka’bah. Hal yang penting dalam pengarahan kiblat ini adalah menghadapkan hati langsung kepada Allah SWT.

Dalam ayat ini, Allah memerintahkan umat islam untuk senantiasa berlomba-lomba dalam mengerjakan kebaikan (fastabiqul-khairat). Dan kandungan ayat ini yang dapat kita ambil maknanya adalah hendaknya kita giat bekerja serta berlomba dalam segala bentuk kebaikan baik shalat,bersedekah,menuntut ilmu,dan amalan-amalan positif yang lain. Kita harus berkompetisi dalam melakukan hal-hal yang positf. Dampak positif yang dihasilkan dari kompetisi dalam kebaikan yaitu terciptanya kondisi kehidupan yang dinamis, maju dan senantiasa bersemangat untuk berkreasi dan berinovasi.

Ayat ini juga menjelaskan bahwa saat nanti, Allah SWT akan mengumpulkan semua manusia, dimanapun dan dari arah manapun mereka berada. Tidak ada seorang pun yang luput dan lepas dari pengawasan Allah SWT, yaitu pada saat manusia menjalani kehidupan di alam akhirat. Mereka akan diperlihatkan semua amal baik atau buruk yang pernah di lakukan pada saat hidup didunia dan semua akan mendapat balasan sesuai dengan amalnya masing-masing.

Asbabun Nuzul

 Ayat ini adalah lanjutan dari keterangan tentang masing-masing golongan yang mempertahankan kiblatnya :

Al-Aufi meriwayatkan dari Ibnu Abbas mengenai tafsir ayat ini, ialah bahwa bagi tiap-tiap pemeluk suatu agama ada kiblatnya sendiri. Bahkan tiap-tiap kabilahpun mempunyai tujuan dan arah.sendiri, mana yang dia sukai. Namun orang yang beriman tujuan atau kiblatnya hanya satu, yaitu mendapat ridha Allah.

Abul `Aliyah menjelaskan pula tafsir ayat ini demikian: “Orang Yahudi mempunyai arah yang ditujuinya, orang Nasranipun mempunyai arah yang ditujuinya. Tetapi kamu, wahai ummat Muslimin, telah ditunjukkan Allah kepadamu kiblatmu yang sebenarnya.”

 

Nabi lbrahim di zaman dahulu berkiblat ke Masjidil Haram, ummat Yahudi berkiblat ke Baitul Maqdis, ummat Nasrani berkiblat ke sebelah timur, dan Nabi-nabi yang lainpun tentu ada pula kiblat mereka menurut zamannya masing-masing, dan engkau wahai utusanKu dan kamu wahai pengikut utusan­Ku; kamu mempunyai kiblat. Tetapi kiblat bukanlah pokok, sebagai di ayat-ayat di atas telah diterangkan, bagi Allah timur dan barat adalah sama, sebab itu kiblat berobah karena perobahan Nabi. Yang pokok ialah menghadapkan hati langsung kepada Allah, Tuhan sarwa sekalian alam. itulah dia wijhah atau tujuan yang sebenarnya.

Perilaku yang mencerminkan surat Al-baqarah ayat 148 :

  • Di rumah      
    • Membantu pekerjaan orang tua
    • Menuruti semua perintah orang tua dengan ikhlas
    • Menghormati orang yg lebih tua (orang tua dan kakak)
    • Membantu adik mengerjakan pekerjaan rumah
    • Menemani adik bermain atau menjaga adik/bayi selama orang tua bekerja
  • Di sekolah
    • Mengikuti pelajaran dengan tekun dan penuh semangat
    • Sopan santun dan menghormati guru dan orang yang lebih tua
    • Mengerjakan pekerjaan rumah atau tugas yang diberikan guru
    • Membersihkan kelas sesuai dengan jadwal piket
    • Membuang sampah pada tempatnya di lingkungan sekolah
    • Berbuat baik dengan sesama teman di kelas atau lingkungan sekolah
    • Saling tolong-menolong teman yang membutuhkan bantuan
    • Mentaati peraturan yang ada di sekolah
  • Di masyarakat
    • Menyantuni anak yatim dan fakir miskin
    • Ikut berorganisasi dalam kegiatan positif yang dilakukan di lingkungan sekitar
    • Menghormati orang yg lebih tua di lingkungan masyarakat
    • Mengikuti pengajian yang diadakan di lingkungan masyarakat
    • Menjaga silaturahmi dengan tetangga dan masyarakat yang lain
    • Saling tolong-menolong denagn tetangga yang membutuhkan bantuan

 

QS Al-Fatir ]35[:32

ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا ۖ فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ وَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ

Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar. (Qs. Fatir [35]:32).

Kosa kata QS. Fatir [35]:32

Penjelasan Ayat Qs. Fatir [35]:32

 Secara global ayat ini menerangkan bahwa Allah SWT telah menurunkan al-Qur’an kepada Rasulullah untuk digunakan sebagai pedoman hidup bagi umatnya. Namun, dalam realita kehidupan di antara umat islam ada berbagai macam sikap dalam mengambil al-Qur’an sebagai pedoman hidup. Sikap-sikap mereka ini diantaranya disebutkan dalam al-qur’an surah Fatir ayat 32 berikut ini:

  • Kelompok pertama adalah (mereka yang menzalimi dirinya sendiri), yaitu orang yang meninggalkan perintah-perintah Allah dan mengerjakan berbagai perkara yang diharamkan.
  • Kelompok kedua (mereka bersikap pertengahan), yaitu mereka disamping melaksanakan kewajiban-kewajiban dan menjauhi larangan-larangan. Namun, terkadang mereka ini meninggalkan perkara-perkara yang disunahkan dan melakukan perkara-perkara yang dimakruhkan.
  • Kelompok ketiga yaitu mereka yang bersikap segera melakukan kebaikan-kebaikan dengan izin Allah. Golongan ini senantiasa mengerjakan perbuatan yang diwajibkan dan disunahkan serta menjauhi perkara yang diharamkan dan dimakruhkan.

Ar-Razi menafsirkan bahwa ‘zalimun linafsih’ adalah orang yang lebih banyak kesalahannya, sedangkan ‘muqtasid’ (tengah) adalah orang yang seimbang antara kesalahan dan kebaikannya. Adapun ‘sabiqun bil-khairat’ adalah orang yang lebih banyak kebaikannya.

Asbabul nuzul Qs. Fatir [35]:32

menzalimi diri sendiri ialah orang yang lebih banyak kesalahan dari pada kebaikannya, dan “pertengahan” ialah orang yg kebaikannya berbanding sama dengan kesalahannya,sedangkan yang dimaksud dengan ” orang orang yang lebih dahulu dalam berbuat kebaikan ” ialah orang orang yang kebaikannya sangat banyak dan jarang berbuat kesalahan. itulah sebabnya di turunkan surat ini,semoga membantu.

Perilaku yang mencerminkan surah fatir ayat 32
1. Senantiasa berusaha dengan jalan mengamalkan ajaran yang ada dalam Al-Qur’an.
2. Berakhlak mulia dengan ilmu dan akal yang sesuai dengan ketentuan syariat.
3. Banyak beramal saleh dan menghindari hal-hal yang tidak berguna terlebih maksiat.

 

Kesimpulan

kesimpulan dari tafsir QS. Al-Fathir ayat 32

Adalah sebagai berikut :

  • Dari tafsir ayat tersebut kelompok kami menemukan tema yaitu “tingkatan-tingkatan orang yang menerima Al-Qur’an”
  • Sedangkan pada asbabun nuzulnya, masih belum diketahui secara pasti sebab-sebab turunnya ayat ini, Allah pada firmannya hanya menyebutkan tingkatan-tingkatan orang yang yang telah dipilih untuk mendapatkan karunianya yakni berupa Al-Qur’an
  • Munasabah

Hal itu telah dijelaskan dalam ayat sebelumnya yang mana Al-qu’an adalah suatu kitab yang menyempurnakan kitab kitab sebelumnya yang diturunkan kepada nabi-nabi sebelumnya seperti kitab Zabur yang turun kepada nabi Daud , kitab Taurat kepada nabi Musa , kitab Injil kepada nabi Isa. Dan kitab ini menjadi pedoman bagi seluruh umat manusia dalam kehidupan di dunia dan di akhirat. Pada ayat 31 telah di jelaskan bahwasanya Al-qur’an adalah sesuatu yang benar dan tidak ada kebohongan di dalamnya

  • Tafsir tekstualnya

Ada sekitar 40 pendapat menyangkut perincian ayat ini.Intinya adalah ada yang berpendapat bahwa ayat ini berbicara menyangkut ketiga kelompok manusia seperti yang dibicarakan dalam Qs.Al waqiah[56]:7 yaitu Ashhab almaimanah,Ashhab al masy amah dan Assabiqun.Dua anatara mereka masuk ke surga dan satu ke neraka.

  • Tafsir kontekstual

Pada dasarnya semua manusia diberikan anugerah berupa potensi/pengetahuan oleh Allah , akan tetapi tidak semua orang mempergunakannya dengan baik, ada yang menyia-nyiakan  pengetahuan itu sehingga kadangkala mereka merasa hidupnya tidak terarah, ada juga yang kadang menyadari adanya pengetahuan adapula yang terkadang mengabaian, dan yang terakhir mereka yang menyadari adana petunjuk / pengetahuan sehingga mereka dengan segera memanfatkannya dengan baik. Dan beruntunglah mereka yang menyegerakan kebaikan dalam hidupnya. Karena tidak semua orang dianugerahi pemikiraan seperti itu

  • Sedangkan pada relevansi ayat dengan makna pendidikan yakni
  • Hendaklah kita menjadi insan yang cermat yang selalu berusaha meninggalkan hal yang dilarang agama.
  • Selalu mawas diri dari perbuatan yang dilarang agama.
  • Hendaklah menjadi insan yang berusaha mendahului melakukan amal kebaikan.
  • Menjadi seorang pendidik yang mewarisi suatu ilmu dengan baik pada peserta didiknya.
  • Senantiasa berusaha dengan jalan mengamalkan ajaran yang ada dalam Al-Qur’an.
  • Berakhlak mulia dengan ilmu dan akal yang sesuai dengan ketentuan syariat.
  • Banyak beramal saleh dan menghindari hal-hal yang tidak berguna terlebih maksiat.

Kesimpulan dari Qs. Al-Baqarah [2]:148

Berlomba-lomba dalam kebaikan dan ketaatan kepada Allah  ternyata bukanlah hal yang mustahil dan aneh bagi orang-orang yang telah merasakan manisnya iman. Bahkan ini merupakan bentuk rahmat yang agung dan taufik dari Allah  yang memudahkan mereka untuk merasakan indahnya ‘surga dunia yang hakiki’, agar mereka semakin termotivasi dan bersemangat mengejar tingginya kenikmatan surga di akhirat nanti.

Imam ibnul Qayyim berkata: “Maha suci (Allah ) yang memperlihatkan kepada hamba-hamba-Nya (yang shaleh) surga-Nya (di dunia) sebelum (mereka) bertemu dengan-Nya (di akhirat kelak), dan Dia membukakan untuk mereka pintu-pintu surga-Nya di negeri (tempat) beramal (dunia), sehingga mereka bisa merasakan kesejukan dan keharumannya, yang itu (semua) menjadikan mereka (termotivasi untuk) mencurahkan (semua) kemampuan mereka untuk meraihnya dan berlomba-lomba mendapatkannya”

 

 

Sekian ”Penjelasan Qs. Al-Baqarah[2]:148 dan Qs. Al-Fatir [35]:32” semoga bermanfaat ya,dan juga dapat di jadikan sebagai bahan referensi.

Jangan lupa baca makalah yang lainnya di :

1 comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *